Selasa, 17 Juli 2018

Journalist Marco



Journalist Marco

(Kumpulan Tulisan di Doenia Bergerak, Sinar Hindia, Sinar Djawadan Hidoep)

Judul   : Journalist Marci
Penulis : Mas Marco Kartodikromo
Penerbit : Oct Opus
Tahun Terbit : 2017
Kota Terbit : Yogyakarta
Jumlah Halaman : 224
Jumlah Tulisan : 36 Tulisan (Berutan berdasarkan tahun)
Isi        : Kumpulan tulisan-tulisan Mas Marco dalam media cetak
Pengulas : DewaRC


Ulasan :
            Mas Marco Kartodikromo termasuk seorang jurnalis senior dalam sejarah dunia perjurnalistikan di Indonesia pada masa Hindia Belanda. Ia memperoleh ilmu jurnalistik dari Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (Bapak Jurnalis Indonesia) seketika menjadi wartawan magang di Medan Priyayi (kepunyaan Mas Tirto) pada tahun 1909. Selain menyelami dunia jurnalis, Mas Marco juga menggiatkan diri menjadi aktivis sosial pembela rakyat pribumi yang selalu ditinda oleh pemerintahan Belanda.
            Pada Tahun 1904 Mas Marco terpilih menjadi ketua Indlansche Journalisten Bond (IJB) atau sebuah perhimpunan para jurnalis Hindia Belanda. Pada tahun itu juga, ia mendirikan sebuah surat kabar bernama Doenia Bergerak, surat kabar yang terbit pertama kali pada Maret 1914. Semenjak terhitung dari berdirinya surat kabar itu, ia berkali-kali dimasukan ke penjara akibat ketajaman tulisan-tulisannya dalam menyerang pemerintah Hindia Belanda. Tak jarang ia sering terkena pressdelict (pengadalin pers) akibat kevulgaran berita ia bawa.
            Pada tahun-tahun 1914, Doenia Bergerak pimpinannya mengalami banyak sekali kontradiksi dalam dunia pers di Hindia Belanda. Terutama surat kabar Oetusan Hindia yang dibawah pimpinan H.O.S Tjokroaminoto. Terjadi sedikit keles antara Mas Marco dan Mas Tjokroaminto. Dalam dunia cetak, masing-masing kedua belah pihak saling memuat berita tentang permusuhan mereka. Dalam Doenia Bergerak, Mas Marco sendiri yang senantiasa melawan permusuhan tersebut, dan dari Oetusan Hindia, diwakili oleh seorang jurnalis dengan nama pena “de willí” (tidak diketahui). Aura panas antara kedua surat kabar ini tidak lain karena terjadinya sedikit keretakan didalam tubuh Sarekat Islam, atau bisa dikatakan antara SI Semaran dan SI Yogyakarta. Diakhir konflik ini, nantinya akan ada sebuah pertemuan besar yang menemukan kedua belah pihak ini untuk mengambil jalan perdamaian.
            Dalam berita-berita berikutnya, tampak tulisan Mas Marco mulai menampakan ketajamannya pada kesemenah-menahan pemerintah Hindia Belanda. Ia mulai nampak membantu para orang-orang kecil (miskin) dalam melawan penindasan, baik itu kolonial maupun para tuan tanah. Mas Marco selalu menajamkan tulisannya pada isu-isu yang bersifat keserakahan kapitalisme. Ia sempat membuat beberapa jilid syair Rempah-Rempah yang berisi tentang keserakahan kolonial dalam mengeksploitasi kekayaan nusantara. Ia juga menumpakan segala emosinya pada tulisan-tulisan Tulunglah orang jawa, apakah pabrik gula itu racun buat bangsa kita ?, jangan takut, bajak laut dan kita pun orang manusia. Ia juga sempat menulis berita tentang para penguasa bumiputra, indie werbaar, dan para pejabat pribumi perihal keangkuhan dan ketamakan mereka yang tidak memikirkan nasib bangsanya sendiri. Kekesalan itu tertuang pada bagaimana rasa menjalani, dorongan untuk si penjilat, penyakit indie weerbaar, awas kaum jurnali dan nasehat untuk Ambtenaren. Tak luput juga ia menulis tentang berita kawan-kawan aktivis seperjuangan lainnya, yang dipersulit oleh pemerintah kolonial. Tulisan itu tertuang pada Sneevliet di buang, Seruan kami guna memperingati. Ia juga hendak menularkan semangat kemerdekaan pada semua bangsanya melalui tulisan Douwes Dekker dan Sneevliet, penuntun, Douwes Dekker tidak berubah haluan, S.I Solo Bergeraklah, Rempah-rempah dsb. Banyak sekali tulisan-tulisan Marco yang sangat berani dalam menentang pemerintah kolonial. Akibat ulahnya itu ia sering kali di penjara, ditegur, diadili dan dibuang. Bahkan orang-orang menganggap Mas Marco adalah seorang jurnalis yang berani di penjara. Sudah banyak sekali kasus-kasus melanda hidupnya, hanya untuk membangunkan jiwa anak bangsa dari gerogotan lintah kolonial.
            Mas Marco juga termasuk seorang Marxisme, yang ia pelajari dari teman Belandanya, Sneevliet dan Ir. Baars. Sebuah ideologi yang menurutnya pas dalam memerangi sistem kapitalisme dan imperialisme yang telah menghisap habis-habisan Hindia Belanda. Kedekatannya dengan para pemuka golongan kiri, membuatnya bertambah semangat dalam menyebarka ide-ide perlawanan.
            Pada 21 Juni 1927. Mas Marco akhirnya bertemu dengan akhir dari segala aksinya. Ia dibuang ke Boven Digoel, Papua. Sebuah kamp pembuangan bagi para pengacau di Hindia Belanda.  Tempat yang menjadi mimpi buruk bagi para aktivis pergerakan di masa kolonial. Kesukaran hidup dan tekanan mental membuatnya tak mampu bertahan lebih lama lagi disana. Maka pada tahun 1931, ia menghebuskan nafas terakhir disana.
Selesai

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca juga ini

Pengantar Filsafat

Pengantar Filsafat Ngaji Filsfat  Fahruddin Faiz Pengulas : DewaRC Belajar Filsafat adalah suatu cara yang dapat kit...

yang lain