Journalist Marco
(Kumpulan Tulisan di Doenia Bergerak, Sinar Hindia,
Sinar Djawadan Hidoep)
Judul : Journalist Marci
Penulis
: Mas Marco Kartodikromo
Penerbit
: Oct Opus
Tahun
Terbit : 2017
Kota
Terbit : Yogyakarta
Jumlah
Halaman : 224
Jumlah
Tulisan : 36 Tulisan (Berutan berdasarkan tahun)
Isi : Kumpulan tulisan-tulisan Mas Marco
dalam media cetak
Pengulas
: DewaRC
Ulasan :
Mas Marco Kartodikromo termasuk
seorang jurnalis senior dalam sejarah dunia perjurnalistikan di Indonesia pada
masa Hindia Belanda. Ia memperoleh ilmu jurnalistik dari Raden Mas Tirto Adhi
Soerjo (Bapak Jurnalis Indonesia) seketika menjadi wartawan magang di Medan Priyayi (kepunyaan Mas Tirto) pada
tahun 1909. Selain menyelami dunia jurnalis, Mas Marco juga menggiatkan diri
menjadi aktivis sosial pembela rakyat pribumi yang selalu ditinda oleh
pemerintahan Belanda.
Pada Tahun 1904 Mas Marco terpilih
menjadi ketua Indlansche Journalisten Bond (IJB) atau sebuah perhimpunan para
jurnalis Hindia Belanda. Pada tahun itu juga, ia mendirikan sebuah surat kabar
bernama Doenia Bergerak, surat kabar
yang terbit pertama kali pada Maret 1914. Semenjak terhitung dari berdirinya
surat kabar itu, ia berkali-kali dimasukan ke penjara akibat ketajaman tulisan-tulisannya
dalam menyerang pemerintah Hindia Belanda. Tak jarang ia sering terkena pressdelict (pengadalin pers) akibat
kevulgaran berita ia bawa.
Pada tahun-tahun 1914, Doenia Bergerak pimpinannya mengalami
banyak sekali kontradiksi dalam dunia pers di Hindia Belanda. Terutama surat
kabar Oetusan Hindia yang dibawah
pimpinan H.O.S Tjokroaminoto. Terjadi sedikit keles antara Mas Marco dan Mas
Tjokroaminto. Dalam dunia cetak, masing-masing kedua belah pihak saling memuat
berita tentang permusuhan mereka. Dalam Doenia Bergerak, Mas Marco sendiri yang
senantiasa melawan permusuhan tersebut, dan dari Oetusan Hindia, diwakili oleh
seorang jurnalis dengan nama pena “de
willí” (tidak diketahui). Aura panas antara kedua surat kabar ini tidak
lain karena terjadinya sedikit keretakan didalam tubuh Sarekat Islam, atau bisa
dikatakan antara SI Semaran dan SI Yogyakarta. Diakhir konflik ini, nantinya akan
ada sebuah pertemuan besar yang menemukan kedua belah pihak ini untuk mengambil
jalan perdamaian.
Dalam
berita-berita berikutnya, tampak tulisan Mas Marco mulai menampakan
ketajamannya pada kesemenah-menahan pemerintah Hindia Belanda. Ia mulai nampak
membantu para orang-orang kecil (miskin) dalam melawan penindasan, baik itu kolonial
maupun para tuan tanah. Mas Marco selalu menajamkan tulisannya pada isu-isu
yang bersifat keserakahan kapitalisme. Ia sempat membuat beberapa jilid syair Rempah-Rempah yang berisi tentang
keserakahan kolonial dalam mengeksploitasi kekayaan nusantara. Ia juga menumpakan
segala emosinya pada tulisan-tulisan Tulunglah
orang jawa, apakah pabrik gula itu racun buat bangsa kita ?, jangan takut,
bajak laut dan kita pun orang
manusia. Ia juga sempat menulis berita tentang para penguasa bumiputra,
indie werbaar, dan para pejabat pribumi perihal keangkuhan dan ketamakan mereka
yang tidak memikirkan nasib bangsanya sendiri. Kekesalan itu tertuang pada bagaimana rasa menjalani, dorongan untuk si
penjilat, penyakit indie weerbaar, awas kaum jurnali dan nasehat untuk Ambtenaren. Tak luput juga
ia menulis tentang berita kawan-kawan aktivis seperjuangan lainnya, yang
dipersulit oleh pemerintah kolonial. Tulisan itu tertuang pada Sneevliet di buang, Seruan kami guna
memperingati. Ia juga hendak menularkan semangat kemerdekaan pada semua
bangsanya melalui tulisan Douwes Dekker dan
Sneevliet, penuntun, Douwes Dekker tidak berubah haluan, S.I Solo Bergeraklah,
Rempah-rempah dsb. Banyak sekali tulisan-tulisan Marco yang sangat berani
dalam menentang pemerintah kolonial. Akibat ulahnya itu ia sering kali di
penjara, ditegur, diadili dan dibuang. Bahkan orang-orang menganggap Mas Marco
adalah seorang jurnalis yang berani di penjara. Sudah banyak sekali kasus-kasus
melanda hidupnya, hanya untuk membangunkan jiwa anak bangsa dari gerogotan
lintah kolonial.
Mas
Marco juga termasuk seorang Marxisme, yang ia pelajari dari teman Belandanya,
Sneevliet dan Ir. Baars. Sebuah ideologi yang menurutnya pas dalam memerangi
sistem kapitalisme dan imperialisme yang telah menghisap habis-habisan Hindia
Belanda. Kedekatannya dengan para pemuka golongan kiri, membuatnya bertambah
semangat dalam menyebarka ide-ide perlawanan.
Pada
21 Juni 1927. Mas Marco akhirnya bertemu dengan akhir dari segala aksinya. Ia
dibuang ke Boven Digoel, Papua. Sebuah kamp pembuangan bagi para pengacau di
Hindia Belanda. Tempat yang menjadi
mimpi buruk bagi para aktivis pergerakan di masa kolonial. Kesukaran hidup dan
tekanan mental membuatnya tak mampu bertahan lebih lama lagi disana. Maka pada
tahun 1931, ia menghebuskan nafas terakhir disana.
Selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar